Seringkali kita berada pada ujung jalan yang tak bercabang. Entah ingin melesapkan diri kemana. Tak ada jalan lain. Atau mungkin apa yang kita lihat tertutupi oleh rindangnya rumput, atau tertutupi oleh lebatnya pohon, atau.. mungkin tertutupi oleh kesadaran kita sendiri. Dari keadaan kita yang mentok di ujung jalan tersebut, kita malah menginterpretasikan keadaan seperti ini menjadi hakim atas semua pengalaman yang telah kita lakukan di hari-hari kemarin. Kita menyabotase diri seolah yang kita lakukan adalah palsu. Kita menyangkal, bahwa apa yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita rasakan kemarin hari adalah semu. Lalu, kita terpental ke lubang hitam menuju inti bumi. Kita terberangus oleh ego, amarah, ketidakpastian, ketidakpercayaandiri, kenistaan, rasa hina, dan rasa tidak aman tentang siapa diri kita di saat seperti ini.
Pada ujung jalan ini, izinkan bayang-bayang dirimu hadir, menuntunmu dengan hati nurani, dengan insting, dengan logika yang kosong, tanpa ada pertanyaan berlebihan tentang apa yang kau rasa.
Perlahan, kau mencerabut satu per satu beberapa tanaman yang merambat, kau mulai menemukan jalan meski kau tak tahu jalan yang akan kau tempuh itu menuju kemana. Kekhawatiran, keraguan, mulai mendekapmu lagi. Kau kehilangan nafas dan kepercayaan diri untuk melanjutkan jalan yang kau pilih.
Barangkali, suara-suara semesta diterpa angin menuju telingamu, atmamu, dan berdecak pada jantungmu untuk tetap mendorongmu terus melangkah, melangkah, dan melangkah. Barangkali, menepi adalah hal yang paling masuk akal ketimbang kau berputar balik dan memundurkan langkahmu barang selangkah pun. Sebab, kau belum menemukan akhir perjalanan, ujung jalan ini yang akan memberikanmu makna apa yang kau cari, jawaban terhadap dirimu sendiri.
Bila kita boleh memutar waktu, barangkali kita bersedia untuk mengakses memori-memori di dalam kepala tentang apa yang sudah kita lakukan kemarin hari. Sudah berapa banyak energi yang kau habiskan untuk hal-hal di luar kendalimu? Berapa banyak orang yang kau temui kala energimu hanya terbatas dan ingin dirimu sendiri, dan kau dengan egois mengizinkan dirimu dengan energi terbatas itu, melayani orang lain. Kau berubah menjadi sosok manusia dengan template. Tidak bahagia, tidak sedih, tidak juga menderita. Hanya menghadirkan diri untuk mereka semua. Kau egois, kau memaksa dirimu untuk terus memberi dengan segenap tenaga, bahkan ketika tubuhmu memberi sinyal bahwa ia butuh istirahat, butuh sandaran, butuh jeda, butuh sunyi.. sejenak.
Kendati begitu, jauh di dalam dirimu, justru pertanyaan eksistensial muncul ke permukaan dan menghantam idealismu, “Apabila aku tidak mencipta, menghasilkan, menyediakan, lalu siapa diriku ini? Apakah aku benar-benar diriku dari apa yang sudah kulakukan? Apakah aku memang orang yang bisa sepeka itu? Apakah aku adalah cerminan dunia batinku yang sungguh bijaksana itu? Atau justru.. aku bukan semuanya, apakah aku telah menipu diriku sendiri karena faktor hormonal yang sedang bergejolak. Lalu.. siapakah aku?”
Pertanyaan itu bukan interpretasi keburukan tentang identitas, karena ironinya, pertanyaan tersebut adalah salah satu bentuk pertanyaan paling fundamental dari “pencarian diri.” Kau tak perlu gunakan versi dirimu yang sedang kosong ini sebagai hakim terhadap seluruh pengalamanmu.
Kemudian, dari pertanyaan eksistensial tersebut, kau melahirkan semua neurosis lainnya. Kecemasan, keraguan, kepanikan, ketidakpercayaan, hingga.. penghinaan terhadap diri sendiri yang membuatmu semakin membenci diri sendiri. Kau menggerutu tentang kondisi tubuhmu yang gampang lelah, kepalamu yang sering sakit, dan energimu yang cepat surut. Kau menghakiminya, menyalahkannya bahwa kondisi itu menjadi penghambat dirimu untuk berkembang, untuk bertumbuh, untuk bisa eksplorasi lebih jauh dan mungkin… berlari lebih cepat. Seperti yang orang-orang lihat belakangan ini bahwa kau memacu dirimu sendiri, kau dapat pujian dari beberapa orang. Lalu adilkah untuk dirimu sendiri yang mempercayai pujian mereka yang hanya melihat hasil dari prosesmu? Sedangkan proses yang selama bertahun-tahun menyiksa, hanya dirimu, dirimu,dan dirimu yang mengetahui, memahaminya.
Barangkali kau perlu pahami ini, bahwa tubuhmu sedang mengatur kecepatan yang sanggup ditanggung oleh sistemmu. Lagipula, siapa yang menyuruhmu untuk terus berlari? Kau berlomba dengan siapa? Kau pun juga paham bahwa garis orbitmu tentu hanya milikmu sendiri, kau tak bisa memaksakan diri untuk mencuri garis orbit orang lain untuk menyainginya. Kau sedang bersaing dengan siapa? Ketahuilah bahwa manusia tidak tumbuh seperti grafik yang terus naik. (Kaya dolar yang naik terus?) ada kalanya kita di fase ekspansi; mengeksplorasi apa yang bisa kita lakukan, mengasah kreativitas. Ada pula fase integrasi, ketika semua pengalaman yang kau raih mencoba untuk dikaitkan satu sama lain, dan terakhir fase pemulihan. Kau bisa menyadari dirimu sendiri kau berada di fase mana.
Bayangkan kau berlari cukup jauh, ketika kamu berhenti “sprint” dan berjalan, pihak eskternal mungkin akan berkata “Kok sekarang jadi melambat?” padahal tubuhmu sedang melakukan sesuatu yang tidak terlihat: menuruntkan denyut jantung, mengatur napas, memulihkan otot, dan mengisi kembali energi.
Lagipula, sekalipun kau memaksa dirimu untuk terus “sprint” tubuhmu bukan hanya memintamu untuk beristirahat, melainkan membuatnya untuk berhenti. Secara psikologis, sesuatu yang mirip dapat terjadi.
Ketika kau terus berpikir, menciptakan, bekerja, menghadapi banyak perubahan, memproses emosi, membangun sesuatu yang baru, dan terus mencoba memahami dirimu sendiri, ada saat ketika sistemmu membutuhkan periode yang lebih lambat. Alih-alih bertanya “apakah aku sedang mengintegrasikan pengalaman?” kau justru mengkritik dan terkesan menghakimi dirimu dengan pertanyaan-pertanyaan:
“Kenapa aku gak bisa apa-apa?”
“kenapa aku terus menerus lelah dan mengantuk?”
“kenapa aku seolah gak punya ide?”
“kenapa aku gak merasakan apa-apa?”
“apakah aku kehilangan diriku?”
Padahal perlambatan tak selalu mengartikan kemunduran.
Pada titik inilah, keadaan merasa kosong ini menjadi makna dalam pencarian diri. Ia tetap masih menjadi bagian dari “berproses” seperti makna yang sangat indah dalam seorang seniman yang akhirnya menyadari bahwa kanvas kosong pun merupakan bagian dari proses karyanya.
Kita kembali pada bagian di mana kau masih membabat satu per satu tumbuhan pada jalan yang kau pilih. Kau masih diselimuti keraguan akan apa yang terjadi di depan sana. Tapi, lebih baik menepi daripada harus jalan mundur kebelakang. Menepi, pada kenyataannya kita mengizinkn tubuh kita untuk hanya “hadir” merasakan kini-saat ini. Makan tepat waktu, minum lebih banyak, mandi, dan termangu. Ya.. tidak perlu melakukan aktivitas yang bermakna sejenak bukanlah akhir dari identitas unikmu.
Selama beberapa hari ini, kau sudah terlalu penuh dengan pengalaman, kau sudah banyak mengeksplorasi, di tengah proses menciptakan tersebut, kau juga banyak melakukan pengintegrasian atas apa yang kau pikirkan, rasakan, kau menyediakan diri untuk orang lain, kau mengisi energi dan motivasi untuk orang lain, tibalah saatnya kau memulihkan diri dengan kekosongan saat ini. Mengosongkan diri adalah kemampuan dari pencarian dan pembentukan diri. Rasakan sensasi-sensasi di sekitarmu, temperatur yang mungkin membuatmu berkeringat atau menggigil kedinginan, cahaya yang membuatmu mengerlipkan mata dan menutupnya, air yang membasuh badan dan tenggorokanmu, makanan yang memenuhi isi perutmu dan membantu pemulihan fisikmu, suara-suara di sekitar yang secara alami terbuat dari pihak eksternal. Suara yang kembali membuatmu sadar bahwa kau hanya bisa mengendalikan dirimu sendiri.
Pada kenyataannya, melambat dan mengosongkan diri bukanlah akhir dari siapa dirimu, tak perlu kau cemaskan terhadap identitasmu, biarkan pertanyaan eksistensialmu mengalir tiap harinya tanpa perlu kau sangkal dan kau jawab. Sebab apabila pertanyaan itu masih bersarang di pikiranmu, identitas yang kau idealkan itu masih bersemayam di sana. Ia sedang rehat sejenak. Lagipula, tidak ada orang yang bisa menerima dirimu sepenuhnya ketika kekosongan ini terjadi kecuali dirimu sendiri.
